Hutanku : bukan Untuk Negeriku
Meiza
Hayyu Putri & Fitra Adi Prayogo
Universitas
Diponegoro
Indonesia
memiliki areal kehutanan yang sangat luas, yang merupakan suatu daerah
peralihan antara ekosistem daratan dengan produktivitas hayati tinggi. Adanya
pasokan unsur hara dari daratan melalui aliran sungai dan aliran air permukaan
ketika hujan, serta tumbuh dan berkembangnya berbagai ekosistem alami seperti rerumputan,
tanaman bawah tegak pohon, diversitas hayati yang tinggi menyebabkan wilayah hutan
sangat subur. Dengan adanya potensi tersebut dan aksesibilitasnya yang mudah,
wilayah hutan dimanfaatkan untuk berbagai tujuan. Sumberdaya hutan berperan
penting dalam mendukung pembangunan ekonomi daerah dan nasional untuk
meningkatkan penerimaan devisa, lapangan kerja, hasil hutan yang berlimpah, dan
pendapatan penduduk. Sumberdaya hutan tersebut mempunyai keunggulan komparatif
karena tersedia dalam jumlah yang besar dan beranekaragam, serta dapat
dimanfaatkan dengan biaya eksploitasi yang relatif murah dan arif, sehingga
mampu menciptakan kapasitas penawaran yang kompetitif. Berdasarkan hal
tersebut, keberadaan sumberdaya yang kaya sering terancam akibat pembangunan yang
tidak berwawasan lingkungan bahkan kepuasan semata.
Pernyataan
demikian, berkaitan dengan upaya menyelamatkan wilayah hutan di Indonesia,
ternyata belum mampu mencapai swasembada ketahanan lingkungan yang dinyatakan
sebagai negara agraris dalam meningkatkan keunggulan kualitas lingkungan di
Indonesia khususnya terhadap pengelolaan hutan. Hutan gambut
yang kini masih hangat dibicarakan. Tidak hanya pejabat tinggi, kalangan tua,
atau muda kini sudah tak asing lagi didengar. Hutan gambut adalah hutan yang
tumbuh di atas kawasan yang digenani air dalam keadaaan asam dengan pH 3,5-4,0.
Hal demikian tanah sangat miskin hara.

Gambar. Kebakaran Hutan
Sumber : Kaskus, co.id
Kebakaran
hutan gambut sudah terjadi, yakni sekitar kepulauan riau dan sumatra. Hutan yang
seharusnya dillindungi dan dijaga tapi kini hancur dan tak bersisa. Habis
dibakar tak bersisa, kerusakan ekosistem berdampak pula pada warga sekitar. Tak
ada kehijauan lagi terlihat, adaptasi fauna dan flora menjadi terganggu. Inikah
negeriku? Dimana para pemuda-pemudi, dimana letak hati pejabat tinggi? sudah
tak pedulikah dengan negerimu sendiri?
Terbayangkah
dan sudah terbayarkah kasus-kasus yang belum kini diraut selesai? : Kasus
lapindo belum kunjung usai, Kasus kemiskinan belum juga surut, Kasus pendidikan
belum juga merata. Lalu kini kasus kebakaran hutan di sumatra dan riau. Apakah sudah
terselesaikan?
Lalu bagaimanakah sikap kita? Apakah kita menjaganya? Untuk
apa bumi ii? Apakah hanya menjadi tempat para konsumen? Atau hanya menjadi
keegoisan semata dalam mencari takhta, jabatan dan harta? Lalu, dimana jawaban
mencari solusinya?
“Semua itu jawaban ada pada hati manusia masing-masing.
Hatilah yang mampu menjawabnya, bisa atau tidak menjaga yang sangat penting untuk
generasi mendatang.”
Hanya
sekedar tulisan untuk mencurahkan hati akan keadaan Indonesia. Abaikan saja jika ada terdengar : Hutanku
hanya untuk keegoisan atau sudah bukan milik Indonesia. Semoga tulisan ini
dapat membuka mata, hati dan diri terhadap lingkungan yang mulai rontok oleh
tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab, KALAU BUKAN PERAN SCIENCE BIOLOGI MUDA SIAPA LAGI YANG PEDULI
DAN LESTARIKAN AKAN LINGKUNGAN? LINGKUNGAN ITU TEMPAT TINGGALMU, HUTAN PUN JUGA
MILIKMU, INDONESIA BUMI PERTIWI. Terima kasih.
Foto ini diambil salah satu wilayah di kampusku







