Pagi itu matahari terik di kota lunpia
terbangun dari tidur, mengucap syukur kepada Illahi, diberi kenikmatan masih bernafas
ya, kali ini keadaan masih sama
namamu ada di layar handphoneku
ratusan hari dilewati, masih denganmu
rasa itu untukku masih sama untukmu
lantas bagaimana denganmu???
kau selalu becerita tentang kebaikannya padaku
memujinya, menyanjungnya bahkan kau tak pernah sekalipun menyanjungku
cukup bagiku, aku selalu membanggakanmu didepan keluarga, teman, atau lingkungan kerjaku
turut bahagia..
nah, lantas bagaimana denganmu?
umur kami menginjak masa untuk berumah tangga
ah, omong kosong..
kami belum siap untuk melaksanakannya
aku masih membahagiakan keluargaku
begitupun kamu..
keluargaku yang penuh kebahagiaan sekitar 6/7 tahun lalu
saat aku masih bersama Ayah.
Ayah, udh pergi
bukan berarti lintas kota atau negara
melainkan alam.
kebahagiaanku dulu begitu indah..
tapi ketika ayah pergi, itu semua menjadi terpuruk untuk diriku
tak terbiasa tanpa kasih sayangnya, kini benar-benar aku mencari sandaran untuk cerita
balik lagi kecerita tentangmu..
aku iri denganmu,,
ketika, kau bercerita tentang keluargamu
iriku karena kebahagiaan
apalagi setelah kudengar, aku bukan anak kandungnya..
hatiku hancur..
entah, bagaimana untuk mendeskripsikan..
kamu mempunyai saudara yang begitu amat mencintaimu
teman, sahabat, begitu dekat dan sayang padamu
lantas aku?
bukan aku tak bersyukur pada sang Pencipta
tetapi, perasaan inilah yang aku rasakan
kamu, boleh ku cerita tentang sosokmu?
kukatakan kamu sosok yang tampan
dikagumi oleh banyak orang
dari tutur katamu yang begitu menarik perhatian orang lain
caramu bersikap, caramu menyayangi teman lelaki dan teman wanitamu
pendampinganku belum cukup puas untukmu
kamu mencari wanita lain, untuk pendampinganmu
lantas, kamu ingin mencampakkan aku?
aku tak menyangka, sikapmu akan kasar padaku
secara tidak langsung, kamu menyingkirkanku secara perlahan
yap, dia wanita yang pertama kali kamu kenal
sebelum km mengenalku
Dia yang selalu kamu bangga-banggaku didepanku
aku hanya tersenyum pasi
tak ingin kukatakan "aku ingin juga kamu banggakan"
ah, untuk apa aku katakan?
aku tak ingin di puji dari ucapanku
ketika kamu melakukan salah, aku hanya diam
lalu menangis.. hanya itu..
tak ingin bilang kata "pisah"
karna jujur saja, itu bukan sikap dewasa
yang kamu katakan "aku terlalu mengaturmu"
"tuntutan tiada akhir"
maafkan aku, aku menyusahkanmu
terima kasih untuk ratusan hari
pendampinganku yang belum cukup memuaskanmu :')
Minggu, 06 Maret 2016
told her story
Posted on 09.36 by penulisabstraak
| No comments
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







0 komentar:
Posting Komentar