DIVERSIFIKASI HABITAT AKIBAT DEGRADASI LAHAN DI KAWASAN PULAU PANJANG,
JEPARA, JAWA TENGAH
Meiza Hayyu Putri
Universitas Diponegoro

(Sumber:
Lokasi Kawasan Pulau Panjang : Agustus 2014)
Indonesia
memiliki perairan yang sangat luas dan wilayah pesisir yang merupakan suatu
daerah peralihan antara ekosistem daratan dan lautan dengan produktivitas
hayati tinggi. Adanya pasokan unsur hara dari daratan melalui aliran sungai dan
aliran air permukaan ketika hujan, serta tumbuh dan berkembangnya berbagai
ekosistem alami seperti hutan mangrove, terumbu karang, padang lamun dan
estuaria, menyebabkan wilayah pesisir sangat subur. Potensi tersebut dan
aksesibilitasnya yang mudah, wilayah pesisir dimanfaatkan untuk berbagai
tujuan. Sumberdaya pesisir berperan penting dalam mendukung pembangunan ekonomi
daerah dan nasional untuk meningkatkan penerimaan devisa, lapangan kerja, dan
pendapatan penduduk. Sumberdaya pesisir tersebut mempunyai keunggulan
komparatif karena tersedia dalam jumlah yang besar dan beranekaragam serta
dapat dimanfaatkan dengan biaya eksploitasi yang relatif murah dan arif,
sehingga mampu menciptakan kapasitas penawaran yang kompetitif. Berdasarkan hal
tersebut, keberadaan sumberdaya yang kaya sering terancam akibat pembangunan yang
tidak berwawasan lingkungan. Pernyataan demikian, berkaitan dengan upaya
menyelamatkan wilayah pesisir di Indonesia belum mampu mencapai swasembada ketahanan
lingkungan yang dinyatakan sebagai negara agraris dalam meningkatkan keunggulan
kualitas perairan di Indonesia khususnya terhadap pengelolaan kawasan mangrove yang berada disekitar perairan pantai.
Berdasarkan
data Kementrian Lingkungan Hidup Republik indonesia (2008) berdasarkan
Direktorat Jendral Rehabilitas Lahan dan Perhutanan Sosial ( Dirjen RLPS) luas
hutan mangrove di indonesia pada tahun 1999 diperkirakan mencapai 8.204.840,32
hektar dengan kondisi baik 2.548.209,42 hektar dan 6.656.630,9 hektar dalam
keadaan kondisi rusak sedang dan rusak parah. Kerusakan tersebut antara lain
disebabkan oleh konversi mangrove menjadi kawasan pertambakan, pemukiman, dan
industri, padahal mangrove berfungsi sangat strategis dalam menciptakan
ekosistem pantai yang layak untuk kehidupan organisme akuatik.
Secara sudut pandang dialami kondisi di wilayah suatu pulau yang berada di Pulau Jawa yaitu pulau panjang. Pulau panjang yang terletak di Jepara, Jawa Tengah memilik keunggulan tersendiri sebenarnya. Jika kita bisa memandang dan melihat secara detail dalam kondiis yang baik serta menguntungkan bagi perairan dan habitat tersebut sangat berpengaruh terhadap ketahanan dan keunggulan dari suatu ekosistem yang mampu menjaga kestabilan keanekaragaman hayati yang beradas dikawasan pualu pandang. Pulau panjang yang terlihat kini ketika saya bersama rekan mahasisa dan Tim Dosen untuk melakukan sampling dan edukasi di wilayah tersebut sunggu terlihat sangat miris keadaannya. Kawasan terssebut tanpa benar-benar adanya perlindangan dan pemberdayaan secara khusus dalam menangani tindak lanjut ekosistem yang berdampak sangat menguntungkan bagi msyarakat yang tinggal di sekitara kota Jepara. Saayngnya, hal ini hanya dipandang sebelah mata oleh pihak yang seharsunya bertanggung jawab terhadap masalah lingkungan yang saat ini lingkungan darat ataupun perairan tidak terjaga keadaannya. Lalu bagaimanakah sikap kita? Apakah kita menjaganya? Semua itu jawaban ada pada hati manusia masing-masing. Hatilah yang mampu menjawabnya, bisa atau tidak menjaga yang sangat penting untuk generasi mendatang.
Mneuurt Narasumber yang bernama Bapak Sunarto, saat itu saya dan rekan mencoba mencari kelanjutan dari tentang pulau panjang. Pikiran sayapun lansgung terlintas, ya Indonesia kini muali rapuh jika semua generasi saat ini tidak lagi memperhatikan kondiis lingkungan, yang dipikirkan hanyalah keegoisan semata. Ya, dimanakah jiwa danm hati nurani yang dianggap sosial (lingkungab)? Menurtu Pak Narto, keadaan pulau panjang kini sangat mengkhawatirkan, contohnya saja keadaan habitat pohon randu dan hutan mangrove Hal ini dikarenakan karena keadaan habitat yang lama-kelamaan menjadi hilang akibat degradasi
lahan, tangan yang tidak bertanggung jawab sehingga merusak keadaan pulau
panjang. Berdasarkan sumber secara langsung Bapak Narto, menyatakan bahwa pulau panjang saat
tahun 1960 luas mencapai 60 hektar, sekitar tahun 1975 mencapai 36 hektar dan tahun 2000 – 26 hektar dan Tahun 2014 – 20 hektar.
Bayangkan saja jika dalam 5 tahun kedepan pulau panjang tidak mampu dijamah
lagi untuk are edukasi, optimalisasi mangrove. Adakah tindak lanjut jika pulau panjang sudah tidak ada lagi? Jawabku : Manusia hanya dapat diam ketika salah satu sumber daya hilang dan punah.

(Sumber Secara langsung dengan Bapak Sunarto)
Mangrove
tumbuh dan berkembang pada wilayah estuaria dan memiliki adaptasi yang unik
untuk menghadapi tekanan lingkungan berupa salinitas tinggi, temperatur tinggi
dan radiasi sinar matahari yang kuat, sert melimpahnya mikroorganisme dan
insekta. Hutan mangrove merupakan suatu ekosistem yang mempunyai peranan
penting ditinjau dari sisi ekologis maupun aspek sosial ekonomi. Hutan mangrove
mempunyai fungsi ganda yang merupakan mata rantai sangat penting dalam
memelihara keseimbangan siklus biologi di suatu perairan.
Menurut
Bengen (2001) menyebutkan bahwa pelestarian hutan mangrove merupakan suatu unit
usaha yang kompleks untuk dilaksanakan karena kegiatan tersebut sangat
membutuhkan sifat akomodatif terhadap pihak-pihak terkait baik yang berbeda di
sekitar maupun di luar kawasan. Konversi mangrove yang tidak terkendali
dibarengi dengan penumpukan limbah organik dari sisa pakan dan feses pada budi
daya udang intensif disinyalir telah menyebabkan munculnya berbagai jenis
penyakit udang di tambak.
Apabila
keseimbangan ekologi lingkungan perairan pantai tetap terjaga maka keberadaan
mangrove dapat dipertahankan karena mangrove berperan sebagai biofilter, agen
pengikat dan perangkap polusi. Mangrove juga merupakan tempat hidup berbagai
jenis gastropoda, kepiting pemakan detritus, dan bivalvia pemakan plankton
sehingga akan memperkuat fungsi mangrove sebagai biofilter alami. Berbagai
jenis ikan baik yang bersifat herbivora, omnivora maupun karnivora hidup
mencari makan di sekitar mangrove terutama pada waktu air pasang.

(Sumber: diambil saat terjun langsung di
kawasan pulau panjang)
Berkaca
pads kondisi ekonomi Indonesia, lingkungan dan pangan pun menjadi usaha yang dapat
meningkatkan nilai ekonomi di Indonesia yang memanfaatkan area lahan bagi
tanaman mangrove dengan cara menanam, memanen, dan menanam kembali untuk
menghasilkan suatu produk dari hasil tanaman mangrove Maka dari itu, dari permasalahan perlu adanya solusi inovatif ini yang patut
diterapkan demi mendukung ketahanan pangan dan meningkatkan sisi ekologi serta
ekonomi di indonesia. Krisis pangan yang terjadi akibat kurangnya diversifikasi
pangan kini dapat diatasi dengan mengaplikasikan pengembangan bioteknologi dan
menciptakan produk dalam industri pangan terutama mangrove. Apabila inovasi ini
diterapkan, maka diharapkan penggunaan lahan mangrove serta sumber daya alam
yang bernaung dikawasan tersebut tidak dilakukan eksploitsi secara
besar-besaran.
(Sumber: Foto diambil secara langsung di kawasan pulau panjang)
Solusi
ini merupakan buah pikiran yang tepat untuk diterapkan dalam kehidupan
masyarakat, utamanya bagi petani mangrove dan warga sekitar yang tinggal
didekat kawasan pantai. Adapaun contoh tanaman yang ada dikawasan pulau panjang yaitu tanaman mangrove (Sonneratia alba) dapat dibuat sebagai obat-obatan, tekstil,
keseimbangan ekologi, serta pangan dalam bentuk produk makanan atau minuman
tradisional yang dapat didistribusi ke seluruh penjuru kota di Indonesia hingga
mencapai wilayah ASEAN. Bagian radikula pada tanaman Sonneratia alba berfungsi sebagai bakal akar yang akan menjelma menjadi akar-akar mangrove yang kuat yang akan bisa melindungi pesisir pantai kita dari abrasi dan gelombang tsunami.Solusi demikian, kita sebgaai peran sicence biologi muda dapat mencanangkan dan menopang keunggulan terhadap era persaingan
globalisasi demi menjaga keutuhan dan keleatsrian lingkungan bagi Negara Indonesia.
Semoga tulisan ini dapat membuka mata, hati dan diri terhadap lingkungan yang mulai rontok oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab, KALAU BUKAN PERAN SCIENCE BIOLOGI MUDA SIAPA LAGI YANG PEDULI DAN LESTARIKAN AKAN LINGKUNGAN? LINGKUNGAN ITU TEMPAT TINGGALMU, PULAU PUN JUGA MILIKMU, INDONESIA BUMI PERTIWIterima kasih.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
SADAR DIRI, SADAR GENERASI, SADAR LINGKUNGAN - MHP













