Far? Far? Far?!
Maybe, i just can speak it! Why?!
Sepertinya tidak cocok utk kita teruskan dalam hal bersahabat. Jauh dari yang kubayangkan. Ya memang, aku mengenal dekat denganmu kini hingga 1 tahun lebih, tapi apa yg kurasakan ko lama-lama sindiran dan lelucon darimu membuatku akan tak enak didengar. Awalnya sih dianggap biasa aja ya, tapi ko ini lama-lama aku agak malas utk berdiskusi atau berbicara denganmu. Okelah, saat ini kamu bisa dikatakan amat sempurna. Lalu bagaimana dengan aku? Entahlah, Tuhan tau apa yg kurasakan dan sudah menyiapkan segalanya untuk masa depanku, entah aku bisa menyusunnya atau engga.
Oke baiklah, aku disini tak ingin menyebut siapa nama ataupun inisal. Aku menulis ini utk membagi atau mungkin ada yg sama tentang kasus yg kurasakan ini. Aku menangis dalam bisu layaknya berbicara dengan boneka pururuku diam saja tak dapat menjawan dengan memberi saran. Aku selalu pada Tuhan apa yg kurasakan tentang rasanya sakit menjadi kebaikan. Bukan karna aku merasa so pintar, pandai, sosial. Tapi beginilah aku, aku merasakan pedihnya kehidupan kita diolok-olok ataupun dibully. Apakah aku salah ketika aku dirasakan sakit hati lalu becerita pada sebuah tulisan? ya benar, tulisan pun tak dapat menjawab tetapi kan semua reader mungkin bisa menjawab tanpa perlu mereply dari blog ini.
lanjut, kamu itu begitu sempurna yang dipandang oleh khalayak orang banyak. Kamu itu sangat baik, sangat cerdas, cocok utk menjadi orang pilihan. Lalu? Kau hanya bisa mengejekku dr belakang, memintaku dengan sangat cepat dan tepat karna kalo tidak kau diam layaknya seseorang lagi marah. Andai kau tau, aku tak suka dengan cara ini, aku benci dan ingin berlari sejauh-jauhnya utk menghindarimu. Tapi apa? Aku tak dapat karna kau ada seseorang yg dekat denganku. Apakh ini yg disebuh dengan iri? Aku iri padamu? Apakah benar? Entahlah. Kalo boleh memakai topeng, aku ingin menagis dibalik topeng kebahagiaan pada raut muka yg kutampilkan. Tapi apa daya, aku hanya dpt menangis dalam tegun muka yg dikatakan "polos atau belum dewasa". Aku ingin bisa bersahabat denganmu, tpi sepertinya kau biasa saja. Dari awal kepergiaan masa itu selama kurang lebih 3 hari, aku mengenal kamu dan beberapa teman kita aku merasakan kebahagiaan dan emang dpt feelnya. Tapi ya beginilah kalian ternyata, aku merasa didekatkan ketika dibutuhkan,pergi dan menjauh ketika kebahagiaan hanya milik kalian. Jujur, rasanya aku juga ini mendapatkan kebahagiaan dari kalian. tapi Tuhan adil sudah menyiapkan rencana utkku.
Beberapa hari lagi, aku kan bersamamu. Inilah yg kuraih ingin sekali mengharumkan nama tapi dengan perkataan kamu membuata menjadi feltdown. mengapa aku dibeginikan? Mengapa? Aku benci akan sakit hati, seharusnya kau tau. Mungkin kau saja tak suka tuh disakiti, lalu bagaimana aku? Bisakah kau lihat? Tidakkan?! Bolehkah aku menangis dan menegur atas perkataan kamu yg membuatku merasa wrong person? Oh noooo, aku lelah akan sikapmu. Apakah setiap perkataanku tak pernah jelas? Kau selalu menyelaku disaat aku memberi pendapat. Okelah, aku ingin sepertimu? tapi utk apa, kalo sifat dan tata cara kebiasaanku menoleh ke arahmu? Tidak, aku ingin tetep menjadi diriku/ Udah itu saja, cukup..tidak lebih. Orang lain menganggapmu sebagai orang paling top dan populer. Aku pun menjadi terjatuh dan terisak, aku blm pantas menerimanya kalo kompetisi ini mutlak dari ideku. Cukup, sekian!







0 komentar:
Posting Komentar