Lelaki paruh baya,
tengah asik menikmati masa hidupnya.
kesibukannya hingga lupa akan terjadinya hari esok
lalu lalang meninggalkan keluarganya
demi takhta, ia rela mengejarnya.
senyum simpulnya, tak diberikan untuk anak malang itu
Anak malang itu, kian hari makin merasa dijauhkan
entah apa sebabnya.
sebagian dari orang yang dikenalnya pun, beralih pada kepentingannya
sudah berapa lama disini?
Tiga pun berlalu,
tak ada yang dia jadikan sahabatnya
Ia merasakan betapa sedihnya, akan kehilangan orang-orang terdekatnya
Ia kini bagaikan butiran debu.
Tak dianggap adanya dirinya.
Kembali sejenak..
Ia berfikir, apakah dapat melanjutkan kebahagiaan untuk keluarganya?
Tuhan Maha Adil..
Ia yakin padaNya, atas apa yang terjadi nanti, besok, ataupun di tahun mendatang]
Ia kini hanya dapat berdoa, berusaha, dan bersyukur akan nikmat Tuhan
Lelaki paruh baya di sebrang
Tengah asyik menerima tamu
Tamu yang sangat terhormat
Lagi-lagi wanita malang itu, ingin sekali mendapatkan senyum simpulnya
Wanita malang itu, hanya diam, lagi-lagi tak didapat senyum Bapak Petinggi itu.
Entah apa yang dirasakannya,
tiga bulan Ia tetap melanjutkan kehidupannya.
Entah bagaimana lagi,
Ia ingin tetap melanjutkan mimpinya
Semoga Allah senantiasa mendengarkan Doa dari Anak Malang ini.
Bapak,
Semoga engkai selalu dalam lindunganNya
dan tak lupa, masih ada saudara yang berada di bawahmu
Ingatlah mereka, berbagilah dengan mereka.
Semoga engkau tak luput dan berangsur
dengan semata harta, takta.
Karna, senantiasa Allah akan mengambil semua apa yang sudah dimiliki