Resume
mengenai Aplikasi Keramba Jaring Apung dalam Budidaya Ikan.
Kegiatan
budidaya merupakan kegiatan perikanan yang bersifat dapat memilih tempat yang
sesuai dan memilih metode yang tepat serta komoditas yang diperlukan, sehingga
dengan sifatnya yang luwes ini maka pendistribusian produk dapat disesuaikan
dengan permintaan yang ada ataupun pemanfaatannya. Kegiatan budidaya laut makin
mendapatkan perhatian karena dari kegiatan penangkapan tidak lagi dapat
diandalkan untuk memenuhi permintaan pasar yang membutuhkan pasok semakin besar
dan menginginkan standar kualitas yang lebih pasti. Budidaya ikan bandeng telah
lama dikenal oleh petani dan seat ini telah berkembang di hampir seluruh
wilayah perairan Indonesia, utamanya di daerah Sulawesi Selatan dengan
memanfaatkan perairan payau dan pasang surut.
Cara Aplikasi
Teknik Budidaya
Budidaya ikan di Keramba Jaring
Apung (KJA) yang harus pertama kali diperhatikan adalah debit air dan arus air
pada sungai tersebut, pemilihan tempat untuk Keramba Jaring Apung (KJA) harus
memilih tempat yang susah untuk mengalami kekeringan air. Peletakan Keramba
Jaring Apung (KJA) didaerah yang berarus kecil dan dalam dengan kedalaman ideal
untuk Keramba Jaring Apung (KJA) adalah 60-70 cm. Apabila Keramba Jaring Apung
sudah dibuat maka dilakukan teknik budidaya yang meliputi :
1.
Penebaran benih ikan nila gift kedalam wadah
budidaya
2.
Pemberian pakan.
3.
Pengendalian hama dan penyakit ikan
Aplikasi Polikultur
Budidaya
polikultur merupakan sistem budidaya yang menggabungkan berbagai jenis
komoditas dalam satu perairan (tambak, kolam, atau keramba jaring apung).
Seiring perkembangannya, polikultur yang populer adalah kombinasi 3 komoditas,
yaitu rumput laut Gracilaria sp., ikan
bandeng, dan udang windu. Polikultur 3 komoditas ini banyak diminati
pembudidaya karena didorong permintaan rumput laut yang terus meningkat, meski
harganya berfluktuasi.
Adapun aplikasinya, tidak semua
tambak berpotensi dan bisa dilakukan budidaya model polikultur. Ada tambak yang
hanya cocok untuk monokultur secara intensif dan ada tambak yang cocok untuk
polikultur. Potensi dan kecocokan itu salah satunya ditentukan oleh kedalaman
tambak. Tambak dengan kedalaman 30 – 40 cm, lebih cocok dikembangkan ikan bandeng.
Lalu kedalaman 40 – 60 cm cocok untuk budidaya udang. Dan 60 cm ke atas cocok
untuk budidaya model polikultur. Selain tingkat kedalaman, juga ditentukan oleh
faktor pasang surut air laut. Proses persiapan sebelum tebar, polikultur tidak
perlu dilakukan pengeringan dan tidak menggunakan bahan-bahan kimia karena akan
berdampak pada pertumbuhan rumput laut. Penebaran tidak dilakukan bersamaan.
Pertama ditebar adalah bibit rumput laut, lalu ikan bandeng, dan terakhir udang
windu. Ukuran benih ikan bandeng dan udang windu serta harganya berbeda-beda
antar pembudidaya.
Kelebihan
Budidaya ikan bandeng tidak hanya berkembang di air payau
saja namun saat ini juga sedang berkembang di air tawar maupun laut dengan
sistem Keramba Jaring Apung (KJA). Ikan bandeng sebagai komoditas budidaya
mempunyai beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan komoditas budidaya
lainnya dalam hal :
- Teknologi perbenihannya telah
dikuasai dengan baik sehingga pasok benih tidak lagi tergantung pada musim
dan benih dari alam.
- Teknologi budidayanya baik di
tambak maupun dalam KJA telah dikuasai dengan baik, secara teknis mudah
diaplikasikan dan secara ekonomis menguntungkan.
- Mampu mentolerir perubahan
salinitas mulai dari 0-158 ppt sehingga areal budidayanya cukup luas mulai
dari perairan tawar hingga ke perairan laut.
- Mampu hidup dalam kondisi yang
padat di keramba jaring apung (100-300 ekor/m3).
- Pertumbuhannya cepat
(1,6%/hari).
Polikultur
Keuntungan
polikultur tidak setinggi budidaya monokultur yang intensif, tapi polikultur
memberikan rasa keamanan bagi pembudidaya. Selain itu, aplikasi, pemeliharaan,
dan panen pun tergolong mudah. Sebagai gambaran hasil panen, dari tambak seluas
2,5 hektar di Karawang, rumput laut kering bisa dipanen sebanyak 2 – 3 ton per
bulan. Ikan bandeng bisa dipanen sebanyak 5 – 7 kuintal
Kekurangan
Walaupun
usaha budidaya bandeng dalam keramba jaring apung telah banyak dilakukan oleh
masyarakat, namun masih terbentur pads beberapa kekuranagn terhadap
permasalahan jaring apung diantaranya:
- Harga pakan yang relatif masih
mahal, sehingga masih diperlukan pengkajian lanjutan yang lebih intensif
khususnya bagaimana memanfaatkan bahan baku lokal yang tersedia dalarn
jumlah yang memadai sebagai bahan pakan guna menekan biaya pakan yang
diperkirakan dapat mencapai 70% dan biaya operasional
- Pemenuhan benih yang bermutu,
tepat waktu, jumlah, ukuran, harga, dan tempat belum terpenuhi akibat
panti-panti benih tidak terdistribusi secara merata
- Penataan ruang untuk budidaya
laut belum dikelola secara baik dengan mengacu pada hasil kapan ilmiah
yang kokoh dan profesional







0 komentar:
Posting Komentar