Jumat, 05 Desember 2014

DIVERSIFIKASI HABITAT AKIBAT DEGRADASI LAHAN DI KAWASAN PULAU PANJANG, JEPARA, JAWA TENGAH

DIVERSIFIKASI HABITAT AKIBAT DEGRADASI LAHAN DI KAWASAN PULAU PANJANG, JEPARA, JAWA TENGAH

Meiza Hayyu Putri
Universitas Diponegoro

(Sumber: Lokasi Kawasan Pulau Panjang : Agustus 2014)

Indonesia memiliki perairan yang sangat luas dan wilayah pesisir yang merupakan suatu daerah peralihan antara ekosistem daratan dan lautan dengan produktivitas hayati tinggi. Adanya pasokan unsur hara dari daratan melalui aliran sungai dan aliran air permukaan ketika hujan, serta tumbuh dan berkembangnya berbagai ekosistem alami seperti hutan mangrove, terumbu karang, padang lamun dan estuaria, menyebabkan wilayah pesisir sangat subur. Potensi tersebut dan aksesibilitasnya yang mudah, wilayah pesisir dimanfaatkan untuk berbagai tujuan. Sumberdaya pesisir berperan penting dalam mendukung pembangunan ekonomi daerah dan nasional untuk meningkatkan penerimaan devisa, lapangan kerja, dan pendapatan penduduk. Sumberdaya pesisir tersebut mempunyai keunggulan komparatif karena tersedia dalam jumlah yang besar dan beranekaragam serta dapat dimanfaatkan dengan biaya eksploitasi yang relatif murah dan arif, sehingga mampu menciptakan kapasitas penawaran yang kompetitif. Berdasarkan hal tersebut, keberadaan sumberdaya yang kaya sering terancam akibat pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan. Pernyataan demikian, berkaitan dengan upaya menyelamatkan wilayah pesisir di Indonesia belum mampu mencapai swasembada ketahanan lingkungan yang dinyatakan sebagai negara agraris dalam meningkatkan keunggulan kualitas perairan di Indonesia khususnya terhadap pengelolaan kawasan mangrove yang berada disekitar perairan pantai.
Berdasarkan data Kementrian Lingkungan Hidup Republik indonesia (2008) berdasarkan Direktorat Jendral Rehabilitas Lahan dan Perhutanan Sosial ( Dirjen RLPS) luas hutan mangrove di indonesia pada tahun 1999 diperkirakan mencapai 8.204.840,32 hektar dengan kondisi baik 2.548.209,42 hektar dan 6.656.630,9 hektar dalam keadaan kondisi rusak sedang dan rusak parah. Kerusakan tersebut antara lain disebabkan oleh konversi mangrove menjadi kawasan pertambakan, pemukiman, dan industri, padahal mangrove berfungsi sangat strategis dalam menciptakan ekosistem pantai yang layak untuk kehidupan organisme akuatik.
Secara sudut pandang dialami kondisi di wilayah suatu pulau yang berada di Pulau Jawa yaitu pulau panjang. Pulau panjang yang terletak di Jepara, Jawa Tengah memilik keunggulan tersendiri sebenarnya. Jika kita bisa memandang dan melihat secara detail dalam kondiis yang baik serta menguntungkan bagi perairan dan habitat tersebut sangat berpengaruh terhadap ketahanan dan keunggulan dari suatu ekosistem yang mampu menjaga kestabilan keanekaragaman hayati yang beradas dikawasan pualu pandang. Pulau panjang yang terlihat kini ketika saya bersama rekan mahasisa dan Tim Dosen untuk melakukan sampling dan edukasi di wilayah tersebut sunggu terlihat sangat miris keadaannya. Kawasan terssebut tanpa benar-benar adanya perlindangan dan pemberdayaan secara khusus dalam menangani tindak lanjut ekosistem yang berdampak sangat menguntungkan bagi msyarakat yang tinggal di sekitara kota Jepara. Saayngnya, hal ini hanya dipandang sebelah mata oleh pihak yang seharsunya bertanggung jawab terhadap masalah lingkungan yang saat ini lingkungan darat ataupun perairan tidak terjaga keadaannya. Lalu bagaimanakah sikap kita? Apakah kita menjaganya? Semua itu jawaban ada pada hati manusia masing-masing. Hatilah yang mampu menjawabnya, bisa atau tidak menjaga yang sangat penting untuk generasi mendatang.  
Mneuurt Narasumber yang bernama Bapak Sunarto, saat itu saya dan rekan mencoba mencari kelanjutan dari tentang pulau panjang. Pikiran sayapun lansgung terlintas, ya Indonesia kini muali rapuh jika semua generasi saat ini tidak lagi memperhatikan kondiis lingkungan, yang dipikirkan hanyalah keegoisan semata. Ya, dimanakah jiwa danm hati nurani yang dianggap sosial (lingkungab)?  Menurtu Pak Narto, keadaan pulau panjang kini sangat mengkhawatirkan, contohnya saja keadaan habitat pohon randu dan hutan mangrove Hal ini dikarenakan karena keadaan habitat yang lama-kelamaan menjadi hilang akibat degradasi lahan, tangan yang tidak bertanggung jawab sehingga merusak keadaan pulau panjang. Berdasarkan sumber secara langsung Bapak Narto, menyatakan bahwa pulau panjang saat tahun 1960 luas mencapai 60 hektar, sekitar tahun 1975 mencapai 36 hektar dan tahun 2000 – 26 hektar dan Tahun 2014 – 20 hektar. Bayangkan saja jika dalam 5 tahun kedepan pulau panjang tidak mampu dijamah lagi untuk are edukasi, optimalisasi mangrove. Adakah tindak lanjut jika pulau panjang sudah tidak ada lagi? Jawabku : Manusia hanya dapat diam ketika salah satu sumber daya hilang dan punah.
(Sumber Secara langsung dengan Bapak Sunarto)

Mangrove tumbuh dan berkembang pada wilayah estuaria dan memiliki adaptasi yang unik untuk menghadapi tekanan lingkungan berupa salinitas tinggi, temperatur tinggi dan radiasi sinar matahari yang kuat, sert melimpahnya mikroorganisme dan insekta. Hutan mangrove merupakan suatu ekosistem yang mempunyai peranan penting ditinjau dari sisi ekologis maupun aspek sosial ekonomi. Hutan mangrove mempunyai fungsi ganda yang merupakan mata rantai sangat penting dalam memelihara keseimbangan siklus biologi di suatu perairan.
Menurut Bengen (2001) menyebutkan bahwa pelestarian hutan mangrove merupakan suatu unit usaha yang kompleks untuk dilaksanakan karena kegiatan tersebut sangat membutuhkan sifat akomodatif terhadap pihak-pihak terkait baik yang berbeda di sekitar maupun di luar kawasan. Konversi mangrove yang tidak terkendali dibarengi dengan penumpukan limbah organik dari sisa pakan dan feses pada budi daya udang intensif disinyalir telah menyebabkan munculnya berbagai jenis penyakit udang di tambak.
Apabila keseimbangan ekologi lingkungan perairan pantai tetap terjaga maka keberadaan mangrove dapat dipertahankan karena mangrove berperan sebagai biofilter, agen pengikat dan perangkap polusi. Mangrove juga merupakan tempat hidup berbagai jenis gastropoda, kepiting pemakan detritus, dan bivalvia pemakan plankton sehingga akan memperkuat fungsi mangrove sebagai biofilter alami. Berbagai jenis ikan baik yang bersifat herbivora, omnivora maupun karnivora hidup mencari makan di sekitar mangrove terutama pada waktu air pasang.

(Sumber: diambil saat terjun langsung di kawasan pulau panjang)

Berkaca pads kondisi ekonomi Indonesia, lingkungan dan pangan pun menjadi usaha yang dapat meningkatkan nilai ekonomi di Indonesia yang memanfaatkan area lahan bagi tanaman mangrove dengan cara menanam, memanen, dan menanam kembali untuk menghasilkan suatu produk dari hasil tanaman mangrove  Maka dari itu, dari permasalahan perlu adanya solusi inovatif ini yang patut diterapkan demi mendukung ketahanan pangan dan meningkatkan sisi ekologi serta ekonomi di indonesia. Krisis pangan yang terjadi akibat kurangnya diversifikasi pangan kini dapat diatasi dengan mengaplikasikan pengembangan bioteknologi dan menciptakan produk dalam industri pangan terutama mangrove. Apabila inovasi ini diterapkan, maka diharapkan penggunaan lahan mangrove serta sumber daya alam yang bernaung dikawasan tersebut tidak dilakukan eksploitsi secara besar-besaran.

                       (Sumber: Foto diambil secara langsung di kawasan pulau panjang)

Solusi ini merupakan buah pikiran yang tepat untuk diterapkan dalam kehidupan masyarakat, utamanya bagi petani mangrove dan warga sekitar yang tinggal didekat kawasan pantai. Adapaun contoh tanaman yang ada dikawasan pulau panjang yaitu tanaman mangrove (Sonneratia alba) dapat dibuat sebagai obat-obatan, tekstil, keseimbangan ekologi, serta pangan dalam bentuk produk makanan atau minuman tradisional yang dapat didistribusi ke seluruh penjuru kota di Indonesia hingga mencapai wilayah ASEAN. Bagian radikula pada tanaman Sonneratia alba berfungsi sebagai bakal akar yang akan menjelma menjadi akar-akar mangrove yang kuat yang akan bisa melindungi pesisir pantai kita dari abrasi dan gelombang tsunami.Solusi demikian, kita sebgaai peran sicence biologi muda dapat mencanangkan dan menopang keunggulan terhadap era persaingan globalisasi demi menjaga keutuhan dan keleatsrian lingkungan bagi Negara Indonesia.

Semoga tulisan ini dapat membuka mata, hati dan diri terhadap lingkungan yang mulai rontok oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab, KALAU BUKAN PERAN SCIENCE BIOLOGI MUDA SIAPA LAGI YANG PEDULI DAN LESTARIKAN AKAN LINGKUNGAN? LINGKUNGAN ITU TEMPAT TINGGALMU, PULAU PUN JUGA MILIKMU, INDONESIA BUMI PERTIWIterima kasih.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
                SADAR DIRI, SADAR GENERASI, SADAR LINGKUNGAN - MHP 









7 komentar:

  1. niat dan kesadaran menjadi bekal utama,, ''Jika kau merawat aku hari ini artinya kau menyiapkan kehidupanmu 20 tahun ke depan''
    mari bergerak!

    BalasHapus
  2. Semoga tulisan tsb dapat memberikan wawasan dan membuka mata bagi para pembacanya khususnya generasi muda untuk lebih mencintai, merawat dan melestarikan lingkungan sekitar baik di wilayah perairan maupun di wilayah pegunungan.
    Semagat mengabdi untuk Indonesia Bumi Pertiwi..

    BalasHapus
  3. karena kita terlahir dengan bidang ilmu science, jangan hanya diam,
    karena sekarang udah jamannya >> talk more do more!
    yang non-science juga gabung :)

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. waaaaaaaaaah bagus. memberi inspirasi untuk mengerjaakan tugas b.indo hehhee. thanks a lot, sist!!!!!!!!!

    BalasHapus
  6. bagus mba, solusinya yang saya baca tadi masih sedikit abstrak ya, tapi intinya kita harus menjaga tanaman mangrove hehe, namun masih ada sedikit masalah mba karena tanahnya itu berpasir dan lahannya tandus jadi ya itu tanamannya pas digambar terlihat sekali itu berguguran karena kekeringan mba, bukan karena dibakar. jadi ada dua solusi yaitu merawat dengan menyiram (eh emang ada ya mba yang mau menyiram tenaman yg luasnya segede itu? haha) dan menjaga serta mereboisasi tanaman mangrove.
    bagus mba terimakasih :P
    salam dari adek mba hehe

    BalasHapus