ORGANISME TINGKAT POPULASI
MAKALAH
Disusun untuk Memenuhi
Tugas
pada Mata Kuliah Bahasa
Indonesia Semester Empat
yang Diampu oleh Rully
Rahardian, S.Si, M,Si, PhD
DISUSUN OLEH :
DEARESTY SAFIRAH
(24020111140070)
MEIZA HAYYU PUTRI
(24020111140071)
NAZILATUN NIKMAH
(24020111140072)
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN
MATEMATIKA
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2013
KATA PENGANTAR
Puji syukur
penyusun panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat-Nya maka penyusun
dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “ASAS-ASAS FAKTOR PEMBATAS”.
Penyusunan makalah ini merupakan salah satu tugas dan
persyaratan untuk menyelesaikan tugas makalah mata kuliah ekologi di
Universitas Diponegoro.
Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima
kasih yang tak terhingga kepada :
- Bapak Ruly Rahardian, S.Si,M.Si,PhD selaku dosen pengampu pada mata kuliah Ekologi
- Keluarga, teman-teman dan semua pihak yang mendukung penyusunan makalah “Organisme tingkat populasi”, yang tidak dapat penyusun sebutkan satu persatu.
Dalam
penyusunan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik
pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki
penyusun. Untuk itu
kritik dan saran dari semua pihak sangat penyusun harapkan demi penyempurnaan
pembuatan makalah ini.
Semarang, 16 Mei 2013
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ………………………………………………….. ii
DAFTAR ISI ………………………………………………… iii
BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………… 1
A.
Latar Belakang ………………………………………………… 1
B.
Rumusan
Masalah …………………………………………… 1
C.
Tujuan ………………………………………………… 2
BAB II ASAS-ASAS FAKTOR PEMBATAS …………..………………... 3
A.
Pengertian
populasi…………………………………………...
B.
Dampak
populasi………………………………………………
C.
Dampak
meledaknya populasi manusia…………………….
D.
Contoh-contoh
populasi……………………………………….
E.
Cara
pengendalian populasi………………………………….
F.
Cara
Pemanfaatan Teknologi Pembangunan Berkelanjutan…
G.
Grafik model
pertumbuhan populasi………………………….
H.
Sifat-sifat
kelompok populasi…………………………………..
I.
Penyebaran
populasi……………………………………………
J.
Faktor
pembatas populasi……………………………………….
K.
Prinsip
organisasi pada populasi interspesies………………..
BAB III PENUTUP ……………………………………………...…
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Permasalahan lokal maupun global tidak dapat dipungkiri
dapat menyebabkan ancaman akan kesejahteraan yang buruk seperti sering
terjadinya pertikaian, perselisihan dan timbulnya berbagai masalah politik juga
ekonomi. Semua masalah ini disebabkan tingkat populasi manusia yang semakin
lama semakin melebihi, sementara luas permukaan bumi yang kita tinggali masih
sama.Hal ini menyebabkan ledakan populasi dengan sumberdaya yang terbatas.
Untuk memahami masalah tentang populasi tersebut, bukan
hanya sekedar mengetahui tetapi juga mempertimbangkan prinsip umum ekologi
populasi, karena tidak ada populasi yang tumbuh terbatas.Spesies selain manusia
ada yang mengalami ledakan populasi tetapi mereka tidak terhindar dari
kehancuran, tetapi banyak juga yang relatif stabil populasinya dengan sedikit
peningkatan atau penurunan tingkat populasi.
Ekologi populasi ini meliputi pengukuran perubahan dalam
ukuran dan komposisi populasi, dan dengan identifikasi penyebab ekologis dan
evolusioner dari fluktuasi tersebut.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan populasi?
2. Apakah yang dimaksud dengan dampak
populasi?
3. Apadampak meledaknya populasi manusia?
4. Apa saja contoh-contoh populasi?
5. Bagaimanakah cara pengendalian
populasi?
6. Bagaimana carapemanfaatan teknologi
pembangunan berkelanjutan?
7. Bagaimanakah grafik model pertumbuhan
populasi?
8. Apa sajakahsifat-sifat kelompok
populasi?
9. Bagaimanakah penyebaran populasi?
10. Apa sajakah faktor pembatas populasi?
11. Apa sajakah prinsip organisasi pada populasi
interspesies?
C.
Tujuan
1. Mengetahui tentang pengertian populasi
2. Mengetahui dampak dari populasi
3. Mengetahui tentang faktor pembatas dari
populasi
BAB II
Asas-Asas Faktor Pembatas
A.
Pengertian
Populasi
Sekelompok mahkluk hidup dengan spesies yang sama, yang
hidup di suatu wilayah yang sama dalam kurun waktu yang sama pula. Misalnya
semua rusa di Isle Royale membentuk suatu populasi, begitu juga dengan
pohon-pohon cemara.Ahli ekologi memastikan dan menganalisa jumlah dan
pertumbuhan dari populasi serta hubungan antara masing-masing spesies dan
kondisi-kondisi lingkungan.
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas
obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan
karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari
dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Populasi ialah semua nilai baik hasil perhitungan maupun pengukuran,
baik kuantitatif maupun kualitatif, dari
karakteristik tertentu mengenai sekelompok objek yang lengkap dan jelas.
B.
Dampak
Populasi
Populasi manusia adalah ancaman terbesar dari masalah
lingkungan hidup di Indonesia dan bahkan dunia.Setiap orang memerlukan energi,
lahan dan sumber daya yang besar untuk bertahan hidup.Kalau populasi bisa
bertahan pada taraf yang ideal, maka keseimbangan antara lingkungan dan
regenerasi populasi dapat tercapai. Tetapi kenyataannya adalah populasi
bertumbuh lebih cepat dari kemampuan bumi dan lingkungan kita untuk memperbaiki
sumber daya yang ada sehingga pada akhirnya kemampuan bumi akan terlampaui dan
berimbas pada kualitas hidup manusia yang rendah.
Manusia sebagai makhluk yang bertanggung jawab terhadap
kelestarian lingkungan di bumi sudah sepatutnya melakukan hal-hal yang perlu
dilakukan untuk menyelamatkan bumi.
Populasi manusia di bumi telah melampaui 6 miliar jiwa pada tahun 2000
dan diperkirakan akan mencapai 8 miliar jiwa pada tahun 2020. Untuk mendukung
jumlah manusia sebanyak itu, beban bumi akansemakin berat, terutama dalam
penyediaan sumber daya alam dan untuk memberikan lingkungan yang berkualitas
layak.
C.
Dampak
meledaknya Populasi Manusia
·
Pesatnya laju pertumbuhan populasi manusia di
bumi.
- Bumi telah terbelah menjadi dua dunia yaitu :
- Dunia Utara sebagai negara industri maju yang jumlah penduduknya relatif sedikit, kurang dari 20% penduduk bumi seluruhnya. Namun, konsumsi sumber daya alam secara umum dapat mencapai 40 kali dari dunia selatan.
- Dunia Selatan yang terdiri atas negara sedang berkembang. Mereka masih dicengkeram oleh kemiskinan dan keterbelakangan sedemikian rupa sehingga kehidupan bagi mereka adalah suatu perjuangan untuk mempertahankan keberadaan atau eksistensi belaka. Dengan demikian, tidaklah mengherankan apabila mereka tidak memperdulikan persoalan lingkungan.
- Perkembangan Iptek yang secara umum masih berciri eksploitatif, menghasilkan limbah dalam jumlah yang tinggi, dan tidak hemat energi. Hal tersebut memberikan tekanan yang tinggi terhadap ekosistem di bumi.
- Perusakkan alam yang berlebihan inilah timbul berbagai masalah yang berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Permasalahan tersebut semakin hari semakin parah karena manusia sebagai pengelolanya tidak dapat mengelola dan mengontrol dengan baik pemanfaatan alam tersebut.
D.
Contoh-Contoh
Populasi
1.
Kepadatan penduduk
Kepadatan
penduduk biasanya sering terjadi karena banyaknya masyarakat yg bertransmigrasi
ke kota besar.
2.
Gizi buruk
Gizi
buruk ini biasa terjadi karena masyarakat yg tidak memiliki pengetahuan yg
cukup tentang seberapa pentingnya menjaga kesehatan. Biasanya disebabkan
kurangnya pasokan gizi pada saat ibu sedang mengandung ataupun padda saat anak
mulai tumbuh!
3.
Persaingan lapangan pekerjaan
Persaingan
lapangan pekerjaan ini di sebabkan oleh pertumbuhan penduduk di negara kita yg
sangat tinggi dan rupanya pertumbuhan penduduk inni tidak sebanding dengan
jumlah lapangan pekerjaan yang disediakan oleh pemerintah selama ini.
4.
Meningkatanya jumlah kemiskinan
Meningkatnya
jumlah kemiskinan ini biasanya di sebabkan oleh kurang berkembangnya
kreatifitas dari masyarakat untuk membuka lapangan pekerjaan sendiri.
5.
Persaingan untuk mendapatkan pemukiman
Persaingan
untuk mendapat permukiman yang layak ini biasa terjadi didaerah perkotaan yg
padat, dan permasalahan seperti ini biasa terjadi karena perumahan yang tidak
memadai sehingga terliahan
Krisis pangan sudah dimulai di seluruh dunia.Harga
semakin melejit dan pada akhirnya bukan karena kita tidak mampu membeli
makanan, tetapi apakah makanan itu bisa tersedia. Kalau bukan kita yang
bertindak dari sekarang, masa depan anak dan cucu kita bisa benar-benar hancur
sehingga kita yang berpesta pora pada saat ini baru akan merasakan akibatnya
nanti.menjadi kumuh.
E.
Cara
Pengendalian Populasi
Pemerintah Indonesia sejak lama telah melakukan beberapa
upaya pengendalian dan penanggulangan kerusakan lingkungan yang dapat
menyebabkan penyusutan keanekaragaman hayati.Beberapa kebijakan telah
dicanangkan terutama terkait dengan upaya pelestarian/konservasi.Selain itu
diupayakan pula suatu kebijakan pemanfaatan yang mengindahkan kaidah-kaidah
pembangunan berkelanjutan serta pembagian keuntungan yang adil dari pemanfaatan
keanekaragaman hayati.
Sejak tahun 1990 telah diterbitkan UU No. 5 Tahun 1990
tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang mengatur
konservasi keanekaragaman ekosistem dan spesies terutama di kawasan lindung.
Indonesia memiliki 387 unit kawasan lindung/konservasi, meliputi 357 unit
daratan (sekitar 17,8 juta hektar) dan 30 unit kawasan laut (sekitar 44,6 juta
hektar). Namun pengelolaan kawasan lindung, khususnya dalam menjamin
partisipasi masyarakat, penegakan hukum, dan lokasi anggaran kurang memadai,
sehingga beberapa kawasan lindung terancam oleh kegiatan perburuan, penangkapan
ikan, penebangan dan pemungutan sumberdaya hutan ilegal, serta konflik dengan
masyarakat local juga mengembangkan UU No. 5 1994 mengenai Ratifikasi Konvensi
PBB tentang Keanekaragaman Hayati (United Nations Convention on Biological
Diversity – CBD). KLH bertindak sebagai National Focal Point yang bertugas
mengkoordinasikan implementasi CBD di tingkat nasional. Indonesia juga telah
meratifikasi beberapa konvensi PBB yang terkait, seperti Pada awal tahun 1990
KLH telah menyusun suatu Strategi Nasional Pengelolaan Keanekaragaman Hayati
yang diikuti dengan kompilasi Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati (Biodiversity
Action Plan of Indonesia – BAPI) yang diterbitkan oleh BAPPENAS pada tahun
1993. Saat ini BAPPENAS dengan bantuan Global Enviroronment Facilities (GEF)
sedang merevisi BAPI melalui penyusunan Rencana Aksi dan Strategi
Keanekaragaman Hayati Indonesia (Indonesian Biodiversity Strategy and Action
Plan – IBSAP). Kegiatan yang melibatkan berbagai instansi terkait dan LSM ini,
diharapkan akan selesai pada tahun 2003 ini. Sementara itu, pemerintah telah
CITES, RAMSAR, World Heritage Convention (WHC)) serta telah menandatangai
Protokol Cartagena tentang Keamanan Hayati. Pemerintah juga berpartisipasi pada
kegiatan MAB (Man and Biosphere) yang dikoordinasikan oleh UNESCO dan dalam
kerangka ASEAN, Indonesia berpartisipasi aktif pada kegiatan program ARCBC
(ASEAN Regional Center on Biodiversity Conservation) yang merupakan proyek
kerjasama ASEAN-EU dan berkedudukan di Manila.
F.
Pemanfaatan
Teknologi Pembangunan Berkelanjutan
Pola pertumbuhan perkembangan ekonomi atau parameter
lainnya, seperti populasi, dapat dilukiskan seperti pada Gambar 3.Memperhatikan
pola pertumbuhan pada gambar tersebut, keadaan dunia saat ini berada pada garis
hitam-penuh yang sedang menanjak, terutama dari segi pertumbuhan populasi dan
ekonomi. Sampai kapankah pertumbuhan ini akan terus berlanjut?. Dengan
memerhatikan tanda-tanda yang terjadi di bumi ini dan tantangan yang telah
dikemukakan pada KTT Bumi di Rio de Janeiro tahun 1992, tampaknya tidak mudah
diatasi oleh umat manusia, yang terjadi adalah masa depan yang buruk bagi
kehidupan manusia. Prediksi yang terjadi adalah seperti yang digambarkan oleh
garis merah-penuh pada Gambar 3.Yaitu, terjadinya bencana yang menimpa umat
manusia. Keadaan seperti ini haruslah dihindari dengan berbagai cara dan usaha.
Usaha yang harus dilakukan adalah bagaimana mengatur
berbagai upaya untuk mencapai kesetimbangan di bumi ini. Pencapaian
kesetimbangan yang dapat menunjang kebutuhan manusia saat ini dengan tidak
mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan yang mereka
perlukan, dikenal sebagai “Keberlanjutan”, dan masyarakat yang berusaha
menciptakan kondisi seperti itu disebut sebagai “Masyarakat yang Berkelanjutan”
(Sustainable Society).
Gambar
3. Pola pertumbuhan pembangunan secara umum
Sumber:
Suzuki (2006).
Namun, teknologi untuk pembangunan yang
berkelanjutan–selanjutnya disebut sebagai teknologi berkelanjutan — tidaklah
cukup dengan perubahan teknologi yang bertujuan memproduksi barang dan jasa dengan
meminimalkan limbah saja, teknologi yang diperlukan adalah teknologi dengan
tujuan yang jauh lebih luas.Hal ini untuk memungkinkan kita untuk memenuhi
kebutuhan umat manusia dengan tanpa melebihi kapasitas daya dukung dan daya
tampung ekologi planet bumi ini dan mempromosikan kesetaraan kebutuhan manusia.
Teknologi Berkelanjutan mempunyai paling tidak tiga
karakterisitik, yaitu: memenuhi kebutuhan umat manusia, mempertimbangkan
pengaruh global dan memberikan penyelesaian jangka panjang (Mulder, 2006).
Beberapa contoh yang memperlihatkan teknologi yang tidak berkelanjutan, antara
lain:
• Penggunaan pupuk kimia, yang pada
awalnya dapat meningkatkan kebutuhan pangan, akan tetapi pada jangka panjang
menimbulkan kerusakan tanah pertanian lokal.
• Obat antibiotika telah dirasakan
penting bagi peningkatan kesehatan manusia, tetapi penggunaannya yang sangat
luas menyebabkan munculnya bakteri yang tahan terhadap obat antibiotika. Pada
jangka panjang, hal ini dapat menimbulkan resiko kesehatan yang luas.
G.
Grafik
Model pertumbuhan Populasi
H.
Sifat-sifat
kelompok populasi
• Kepadatan adalah ukuran besarnya
populasi dalam satuan ruang atau volume, yang pada umumnya ukuran besarnya
populasi digambarkan dengan cacah individu, atau biomas populasi per satuan
ruang atau volume.
• Natalitas merupakan kemampuan suatu
populasi untuk menambah jumlah anggotanya secara inheren/besar. Laju natalitas
adalah sama dengan laju kelahiran dalam terminology ilmu kependudukan
(demography). natalitas maksimum adalah penambahan jumlah anggota populasi
dalam kondisi ideal (tidak ada faktor eksternal yang membatasi). Sedangkan
natalitas ekologi adalah pertambahan jumlah anggota populasi dalam kondisi alam
senyatanya.
• Mortalitas adalah pengurangan cacah
individu suatu populasi. Laju mortalitas adalah sama dengan laju kematian dalam
demografi manusia. Moralitas dapat dibedakan atas mortalitas fisiologik dan
ekologik.Mortalitas fisiologik adalah pengurangan individu anggota populasi
dalam kondisi yang ideal. Semua organisme dalam kondisi ideal sekalipun akan
mengalmi kematian sekalipun dalam umur relatif tua, yang secara teoritis
ditentukan oleh longivitas fisiologik. Sedangkan mortalitas ekologik adalah
pengurangan individu anggota populasi dalam kondisi alam senyatanya.Angka
kematian ini biasanya lebih besar dibandingkan dengan kematian dalam kondisi
ideal dan bukan merupakan tetapan.
• Struktur umur adalah sifat populasi
yang penting mempengaruhi baik natalitas maupun mortalitas. Motalitas biasanya
berbeda menurut umur dan kemampuan berkembangbiak sangat kering terbatas pada
kelompok umur tertentu. Secara umum populasi mempunyai struktur umum yang
secara garis besar dapat di golongkan atas tiga pola, yaitu:
1. Struktur umum menurun, yaitu struktur umum yang mempunyai kerapatan
kecil pada umur muda, besar pada kelompok umur sedang dan kecil pada kelompok
umur tua. Perkembangan populasi pada pola struktur umur yang demikian ini
cenderung menurun dan pada periode waktu tertentu akan punah.
2. Struktur umur stabil, yang jika di gambarkan distribusi kelompok
umur ini mempunyai bentuk seperti piramida sama sisi. Populasi dengan pola
stuktur umum semacam ini dapat mempertahankan keberadaannya dalam waktu yang
relatif lama.
3. Struktur umum meningkat ( berkembang),
yaitu populasi dengan kerapatan kelompok umur muda paling besar. Populasi
dengan pola stukutur ini akan mengalami perkembangan kerapatan yang relatif
tinggi pada peride waktu mendatang.
• Bentuk pertumbuhan populasi adalah
tiap populasi mempunyai pola pertumbuhan yang khas. Apabila angka-angka
pertumbuhan populasi di atur di atas grafik, kurva yang akan terjadi mungkin
berbentuk huruf J atau berbentuk huruf S. bentuk kurva grafik seperti huruf J
dan S tersebut merupakan pola dasar tersebut berbentuk sebagai variasi sesuai
dengan sifat-sifat organisme dan lingkungan populasi bersangkutan.
• Potensi biotik
• dispersi
• bentuk perkembangan atau pertumbuhan
• Sifat-sifat genetik yang secara
langsung berhubungan dengan ekologinya, misalnya sifat adaptif, sifat
keserasian reproduktif dan ketahanan (yaitu peluang meninggalkan keturunannya
untuk jangka waktu yang panjang).
Densitas
Populasi
Besaran
populasi yang terdapat dalam suatu unit ruang atau tempat ttt.(cth: pop. rusa
1000 ekor/Ha; 5000.000 diatom/m3 ; bandeng 1000 kg/Ha; udang 2 ton/Ha
Ada
2 bentuk densitas:
1). Densitas
krud (crude dencity), yaitu: jumlah (ekor) atau biomas dari setiap unit dalam
total ruang
2). Densitas
khas (specific dencity), sering disebut densitas ekologi (bila pertimbangan
ekonomi disebut densitas ekonomi), yaitu: jumlah (biomas) setiap unit ruang
habitat dalam suatu ekosistem.
I.
Penyebaran
populasi
Ada beberapa satuan pengukuran yang digunakan dalam
menerangkan suatu populasi ataupun komunitas seperti frekuensi, kepadatan, luas
penutupan, dan biomassa.Kepadatan merupakan jumlah individu per unit area atau
unit volume.Dalam suatu tempat tidak semuanya merupakan tempat yang layak bagi
suatu spesies hewan.Mungkin dari tempat itu hanya sebagian saja yang merupakan
habitat yang layak bagi hewan tersebut.Kepadatan mutlak atau kepadatan ekologi
merupakan kepadatan yang mendiami bagian tertentu (Soegianto, 1994).
Indeks keanekaragaman dan dominansi digunakan untuk
mengetahui pengaruh kualitas lingkungan terhadap komunitas larva ikan.Pengaruh
kualitas lingkungan terhadap kelimpahan ikan selalu berbeda-beda tergantung
pada jenis ikan, karena tiap jenis ikan memiliki adaptasi dan toleransi yang
berbeda terhadap habitatnya.Indeks tersebut digunakan untuk memperoleh
informasi yang lebih rinci tentang komunitas ikan (Bengen, 2000).
Kriteria yang digunakan untuk menginterpretasikan
dominansi spesies yaitu (Ludwig dan Reynold, 1988):
Mendekati
0 = indeks semakin rendah atau dominansi oleh satu spesies.
Mendekati
1 = indeks besar atau cenderung dominansi oleh beberapa spesies.
Pola
penyebaran larva ikan dalam penelitian ini ditentukan dengan menggunakan Indeks
Morisita (Iბ).Indeks ini tidak
dipengaruhi oleh luas stasiun pengambilan sampel dan sangat baik untuk
membandingkan pola pemencaran populasi.
J.
Faktor
Pembatas Populasi
1. Faktor Pembatas Fisik
Faktor
pembatas fisik bagi suatu organisme kita kenal secara luas di antaranya faktor
:
a)
cahaya matahari, intensitas cahaya bukan merupakan bagian terpenting yang
membatasi pertumbuhan tumbuhan dilingkungan darat, tetapi penaungan oleh kanopi
hutan membuat persaingan untuk mendapatkan cahaya matahari dibawah kanopi
tersebut menjadi sangat ketat.
b)
suhu, suhu dapat dikatakan sebagai faktor pembatas karena pengaruhnya pada
proses biologis dan ketidakmampuan sebagian besar organisme untuk mengatur suhu
tubuhnya secara tepat. Sebagian
organisme tidak dapat mempertahankan suhu tubuhnya lebih tinggi beberapa
derajat diatas atau dibawah suhu lingkungan sekitar .
c)
ketersediaan sejumlah air dapat dikatakan sebagai faktor pembatas, ketika ada
organisme yang hidup terendam diair, tetapi ada masalah keseimbangan air, jika
tekanan osmosis intra seluler organisme tersebut tidak sesuai dengan tekanan
air disekitarnya.
2. Faktor pembatas kimiawi dan non fisik
Faktor
pembatas nonfisik adalah unsur-unsur nonfisik seperti zat kimia yang terdapat
dalam lingkungan akan menjadi faktor pembatas bagi organisme-organisme untuk
dapat hidup dan berinteraksi satu sama lainnya. Kondisi lingkungan perairan
(aquatic) berbeda dengan kondisi lingkungan daratan (terrestrial), terutama
ditinjau dari keberadaan unsur kimiawi seperti; O2, CO2, dan gas-gas terlarut
lainnya yang dapat diperoleh organisme di lingkungannya.
3. Faktor Pembatas Tipologi Ekosistem
& Indikator Ekologi
Jika
suatu organisme mempunyai batas toleransi yang lebar untuk suatu faktor yang
relatif mantap dan dalam jumlah yang cukup maka faktor tadi bukan merupakan
faktor pembatas.Sebaliknya apabila organisme diketahui hanya mempunyai
batas-batas toleransi tertentu untuk suatu faktor yang beragam maka faktor tadi
dapat dinyatakan sebagai faktor pembatas.
Adanya
faktor pembatas, dapat dianggap faktor ini bertindak sebagai ikut menyeleksi
organisme yang mampu bertahan dan hidup pada suatu wilayah sehingga sering kali
didapati adanya organisme-organisme tertentu yang mendiami suatu wilayah
tertentu pula.Organisme ini disebut sebagai indikator biologi (indikator
ekologi) pada wilayah tersebut.
K.
Prinsip
Organisasi pada populasi interspesies
Netralisme : Adanya suatu populasi dalam interaksi netral
tidak mempunyai pengaruh pada kehadiran populasi yang lain, sehinggainteraksi
tersebut tidak menghasilkan pengaruh pada organisasi ekologi dari komunitas
atau ekosistem.
Komensalisme : Organisasi yang menggambarkan hubungan
simbiotik, yaitu satu organisme memakan makanan yang tidak dimanfaatkan oleh
orang lain
Amensalisme : Suatu interaksi dengan pengaruh negative
pada suatu populasi dan tidak berpengaruh pada populasi yang lain.
Parasitisme : Parasit adalah organism yang hidup di atas
atau di ddalam tubuh organism lain (inang) yang mendapatkan makanan dan
jaringnya dan sedikit mendapatkan banyak keuntungan.
Predasi : Organisme yang memakan semua atau bagian-bagian
organism hidup lain.
Mutualisme : Interaksi yang berpengaruh positif pada
kedua spesies sebagai akibat dari kebersamaan mereka.
Kompetitif : Aksi dari usaha untuk mendapatkan apa yang
diusahakan pihak lain untuk didapat pada waktu yang sama.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas
obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan
karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari
dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Populasi manusia adalah ancaman terbesar dari masalah
lingkungan hidup di Indonesia dan bahkan dunia.Setiap orang memerlukan energi,
lahan dan sumber daya yang besar untuk bertahan hidup.Kalau populasi bisa
bertahan pada taraf yang ideal, maka keseimbangan antara lingkungan dan
regenerasi populasi dapat tercapai. Tetapi kenyataannya adalah populasi
bertumbuh lebih cepat dari kemampuan bumi dan lingkungan kita untuk memperbaiki
sumber daya yang ada sehingga pada akhirnya kemampuan bumi akan terlampaui dan
berimbas pada kualitas hidup manusia yang rendah.
Faktor pembatas :
a. Faktor
pembatas Fisik
Faktor pembatas fisik bagi suatu organisme kita kenal
secara luas di antaranya faktor : cahaya matahari, cuhu dan ketersediaan air.
b. Faktor
pembatas kimiawi dan non fisik
Faktor pembatas nonfisik adalah unsur-unsur nonfisik
seperti zat kimia yang terdapat dalam lingkungan akan menjadi faktor pembatas
bagi organisme-organisme untuk dapat hidup dan berinteraksi satu sama lainnya.
c. Faktor
Pembatas Tipologi Ekosistem & Indikator Ekologi
Jika suatu organisme mempunyai batas toleransi yang lebar
untuk suatu faktor yang relatif mantap dan dalam jumlah yang cukup maka faktor
tadi bukan merupakan faktor pembatas.Sebaliknya apabila organisme diketahui
hanya mempunyai batas-batas toleransi tertentu untuk suatu faktor yang beragam
maka faktor tadi dapat dinyatakan sebagai faktor pembatas.
DAFTAR
PUSTAKA
Cunningham, Wiliam P., Saigo, Barbara W.,
2001. Environmental Science: A global Concern. Sixth Edition., New York:
Mc Graw Book Co
Hutagalung,
RA., 2010. Ekologo Dasar. Erlangga; Jakarta
Mader,
S.S. 2007. Biology, Ed. 9, McGraw Hill Int. Edition, New York.
Notoatmodjo,S, 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat.
Jakarta: Penerbit Rineka Cipta
Setiadi, T. 2007. “Peranan Teknik
Bioproses dalam mewujudkan Masyarakat Berkelanjutan‘, Majelis Guru Besar,
ITB, Bandung
Uya.2010. Komponen Ekosistem. http://www.shvoong.com/exact-sciences/biology/2012066-komponen-ekosistem.html
Diakses tanggal 15 mei 2013







0 komentar:
Posting Komentar