Minggu, 26 Mei 2013

makalah organisme tingkat populasi



ORGANISME TINGKAT POPULASI

MAKALAH
Disusun untuk Memenuhi Tugas
pada Mata Kuliah Bahasa Indonesia Semester Empat
yang Diampu oleh Rully Rahardian, S.Si, M,Si, PhD

DISUSUN OLEH :
DEARESTY SAFIRAH
(24020111140070)
MEIZA HAYYU PUTRI
(24020111140071)
NAZILATUN NIKMAH
(24020111140072)


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN MATEMATIKA
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat-Nya maka penyusun dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “ASAS-ASAS FAKTOR PEMBATAS”.
Penyusunan makalah ini merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas makalah mata kuliah ekologi di Universitas Diponegoro.
Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada :
  1. Bapak Ruly Rahardian, S.Si,M.Si,PhD selaku dosen pengampu pada mata kuliah Ekologi
  2.  Keluarga, teman-teman dan semua pihak yang mendukung penyusunan makalah “Organisme tingkat populasi”,  yang tidak dapat penyusun sebutkan satu persatu.
Dalam penyusunan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penyusun. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penyusun harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Semarang, 16 Mei 2013

Penyusun



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR        …………………………………………………..         ii
DAFTAR ISI                          …………………………………………………        iii
BAB I     PENDAHULUAN  …………………………………………………        1
A.    Latar Belakang            …………………………………………………        1
B.     Rumusan Masalah ……………………………………………        1
C.     Tujuan              …………………………………………………        2
BAB II    ASAS-ASAS FAKTOR PEMBATAS …………..………………...        3
A.   Pengertian populasi…………………………………………...       
B.   Dampak populasi………………………………………………
C.   Dampak meledaknya populasi manusia…………………….
D.   Contoh-contoh populasi……………………………………….
E.   Cara pengendalian populasi………………………………….
F.    Cara Pemanfaatan Teknologi Pembangunan Berkelanjutan…
G.   Grafik model pertumbuhan populasi………………………….
H.   Sifat-sifat kelompok populasi…………………………………..
I.      Penyebaran populasi……………………………………………
J.    Faktor pembatas populasi……………………………………….
K.   Prinsip organisasi pada populasi interspesies………………..

BAB III PENUTUP               ……………………………………………...…        
DAFTAR PUSTAKA                        …………………………………………………       





BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Permasalahan lokal maupun global tidak dapat dipungkiri dapat menyebabkan ancaman akan kesejahteraan yang buruk seperti sering terjadinya pertikaian, perselisihan dan timbulnya berbagai masalah politik juga ekonomi. Semua masalah ini disebabkan tingkat populasi manusia yang semakin lama semakin melebihi, sementara luas permukaan bumi yang kita tinggali masih sama.Hal ini menyebabkan ledakan populasi dengan sumberdaya yang terbatas.
Untuk memahami masalah tentang populasi tersebut, bukan hanya sekedar mengetahui tetapi juga mempertimbangkan prinsip umum ekologi populasi, karena tidak ada populasi yang tumbuh terbatas.Spesies selain manusia ada yang mengalami ledakan populasi tetapi mereka tidak terhindar dari kehancuran, tetapi banyak juga yang relatif stabil populasinya dengan sedikit peningkatan atau penurunan tingkat populasi.
Ekologi populasi ini meliputi pengukuran perubahan dalam ukuran dan komposisi populasi, dan dengan identifikasi penyebab ekologis dan evolusioner dari fluktuasi tersebut.

B.   Rumusan Masalah
1.         Apakah yang dimaksud dengan populasi?
2.         Apakah yang dimaksud dengan dampak populasi?
3.         Apadampak meledaknya populasi manusia?
4.         Apa saja contoh-contoh populasi?
5.         Bagaimanakah cara pengendalian populasi?
6.         Bagaimana carapemanfaatan teknologi pembangunan berkelanjutan?
7.         Bagaimanakah grafik model pertumbuhan populasi?
8.         Apa sajakahsifat-sifat kelompok populasi?
9.         Bagaimanakah penyebaran populasi?
10.       Apa sajakah faktor pembatas populasi?
11.       Apa sajakah prinsip organisasi pada populasi interspesies?

C.   Tujuan
1.         Mengetahui tentang pengertian populasi
2.         Mengetahui dampak dari populasi
3.         Mengetahui tentang faktor pembatas dari populasi
















BAB II
Asas-Asas Faktor Pembatas

A.   Pengertian Populasi
Sekelompok mahkluk hidup dengan spesies yang sama, yang hidup di suatu wilayah yang sama dalam kurun waktu yang sama pula. Misalnya semua rusa di Isle Royale membentuk suatu populasi, begitu juga dengan pohon-pohon cemara.Ahli ekologi memastikan dan menganalisa jumlah dan pertumbuhan dari populasi serta hubungan antara masing-masing spesies dan kondisi-kondisi lingkungan.
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan  karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Populasi ialah semua nilai  baik hasil perhitungan maupun pengukuran, baik kuantitatif maupun  kualitatif, dari karakteristik tertentu mengenai sekelompok objek yang lengkap dan jelas.

B.   Dampak Populasi
Populasi manusia adalah ancaman terbesar dari masalah lingkungan hidup di Indonesia dan bahkan dunia.Setiap orang memerlukan energi, lahan dan sumber daya yang besar untuk bertahan hidup.Kalau populasi bisa bertahan pada taraf yang ideal, maka keseimbangan antara lingkungan dan regenerasi populasi dapat tercapai. Tetapi kenyataannya adalah populasi bertumbuh lebih cepat dari kemampuan bumi dan lingkungan kita untuk memperbaiki sumber daya yang ada sehingga pada akhirnya kemampuan bumi akan terlampaui dan berimbas pada kualitas hidup manusia yang rendah.

Manusia sebagai makhluk yang bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan di bumi sudah sepatutnya melakukan hal-hal yang perlu dilakukan untuk menyelamatkan bumi.  Populasi manusia di bumi telah melampaui 6 miliar jiwa pada tahun 2000 dan diperkirakan akan mencapai 8 miliar jiwa pada tahun 2020. Untuk mendukung jumlah manusia sebanyak itu, beban bumi akansemakin berat, terutama dalam penyediaan sumber daya alam dan untuk memberikan lingkungan yang berkualitas layak.

C.   Dampak meledaknya Populasi Manusia
·         Pesatnya laju pertumbuhan populasi manusia di bumi.
  • Bumi telah terbelah menjadi dua dunia yaitu :
    • Dunia Utara sebagai negara industri maju yang jumlah penduduknya relatif sedikit, kurang dari 20% penduduk bumi seluruhnya. Namun, konsumsi sumber daya alam secara umum dapat mencapai 40 kali dari dunia selatan.
    • Dunia Selatan yang terdiri atas negara sedang berkembang. Mereka masih dicengkeram oleh kemiskinan dan keterbelakangan sedemikian rupa sehingga kehidupan bagi mereka adalah suatu perjuangan untuk mempertahankan keberadaan atau eksistensi belaka. Dengan demikian, tidaklah mengherankan apabila mereka tidak memperdulikan persoalan lingkungan.
  • Perkembangan Iptek yang secara umum masih berciri eksploitatif, menghasilkan limbah dalam jumlah yang tinggi, dan tidak hemat energi. Hal tersebut memberikan tekanan yang tinggi terhadap ekosistem di bumi.
  • Perusakkan alam yang berlebihan inilah timbul berbagai masalah yang berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Permasalahan tersebut semakin hari semakin parah karena manusia sebagai pengelolanya tidak dapat mengelola dan mengontrol dengan baik pemanfaatan alam tersebut.
D.   Contoh-Contoh Populasi
1.   Kepadatan penduduk
Kepadatan penduduk biasanya sering terjadi karena banyaknya masyarakat yg bertransmigrasi ke kota besar.
2.    Gizi buruk
Gizi buruk ini biasa terjadi karena masyarakat yg tidak memiliki pengetahuan yg cukup tentang seberapa pentingnya menjaga kesehatan. Biasanya disebabkan kurangnya pasokan gizi pada saat ibu sedang mengandung ataupun padda saat anak mulai tumbuh!
3.    Persaingan lapangan pekerjaan
Persaingan lapangan pekerjaan ini di sebabkan oleh pertumbuhan penduduk di negara kita yg sangat tinggi dan rupanya pertumbuhan penduduk inni tidak sebanding dengan jumlah lapangan pekerjaan yang disediakan oleh pemerintah selama ini.
4.    Meningkatanya jumlah kemiskinan
Meningkatnya jumlah kemiskinan ini biasanya di sebabkan oleh kurang berkembangnya kreatifitas dari masyarakat untuk membuka lapangan pekerjaan sendiri.
5.    Persaingan untuk mendapatkan pemukiman
Persaingan untuk mendapat permukiman yang layak ini biasa terjadi didaerah perkotaan yg padat, dan permasalahan seperti ini biasa terjadi karena perumahan yang tidak memadai sehingga terliahan
Krisis pangan sudah dimulai di seluruh dunia.Harga semakin melejit dan pada akhirnya bukan karena kita tidak mampu membeli makanan, tetapi apakah makanan itu bisa tersedia. Kalau bukan kita yang bertindak dari sekarang, masa depan anak dan cucu kita bisa benar-benar hancur sehingga kita yang berpesta pora pada saat ini baru akan merasakan akibatnya nanti.menjadi kumuh.
E.   Cara Pengendalian Populasi
Pemerintah Indonesia sejak lama telah melakukan beberapa upaya pengendalian dan penanggulangan kerusakan lingkungan yang dapat menyebabkan penyusutan keanekaragaman hayati.Beberapa kebijakan telah dicanangkan terutama terkait dengan upaya pelestarian/konservasi.Selain itu diupayakan pula suatu kebijakan pemanfaatan yang mengindahkan kaidah-kaidah pembangunan berkelanjutan serta pembagian keuntungan yang adil dari pemanfaatan keanekaragaman hayati.

Sejak tahun 1990 telah diterbitkan UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang mengatur konservasi keanekaragaman ekosistem dan spesies terutama di kawasan lindung. Indonesia memiliki 387 unit kawasan lindung/konservasi, meliputi 357 unit daratan (sekitar 17,8 juta hektar) dan 30 unit kawasan laut (sekitar 44,6 juta hektar). Namun pengelolaan kawasan lindung, khususnya dalam menjamin partisipasi masyarakat, penegakan hukum, dan lokasi anggaran kurang memadai, sehingga beberapa kawasan lindung terancam oleh kegiatan perburuan, penangkapan ikan, penebangan dan pemungutan sumberdaya hutan ilegal, serta konflik dengan masyarakat local juga mengembangkan UU No. 5 1994 mengenai Ratifikasi Konvensi PBB tentang Keanekaragaman Hayati (United Nations Convention on Biological Diversity – CBD). KLH bertindak sebagai National Focal Point yang bertugas mengkoordinasikan implementasi CBD di tingkat nasional. Indonesia juga telah meratifikasi beberapa konvensi PBB yang terkait, seperti Pada awal tahun 1990 KLH telah menyusun suatu Strategi Nasional Pengelolaan Keanekaragaman Hayati yang diikuti dengan kompilasi Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati (Biodiversity Action Plan of Indonesia – BAPI) yang diterbitkan oleh BAPPENAS pada tahun 1993. Saat ini BAPPENAS dengan bantuan Global Enviroronment Facilities (GEF) sedang merevisi BAPI melalui penyusunan Rencana Aksi dan Strategi Keanekaragaman Hayati Indonesia (Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan – IBSAP). Kegiatan yang melibatkan berbagai instansi terkait dan LSM ini, diharapkan akan selesai pada tahun 2003 ini. Sementara itu, pemerintah telah CITES, RAMSAR, World Heritage Convention (WHC)) serta telah menandatangai Protokol Cartagena tentang Keamanan Hayati. Pemerintah juga berpartisipasi pada kegiatan MAB (Man and Biosphere) yang dikoordinasikan oleh UNESCO dan dalam kerangka ASEAN, Indonesia berpartisipasi aktif pada kegiatan program ARCBC (ASEAN Regional Center on Biodiversity Conservation) yang merupakan proyek kerjasama ASEAN-EU dan berkedudukan di Manila.
F.    Pemanfaatan Teknologi Pembangunan Berkelanjutan
Pola pertumbuhan perkembangan ekonomi atau parameter lainnya, seperti populasi, dapat dilukiskan seperti pada Gambar 3.Memperhatikan pola pertumbuhan pada gambar tersebut, keadaan dunia saat ini berada pada garis hitam-penuh yang sedang menanjak, terutama dari segi pertumbuhan populasi dan ekonomi. Sampai kapankah pertumbuhan ini akan terus berlanjut?. Dengan memerhatikan tanda-tanda yang terjadi di bumi ini dan tantangan yang telah dikemukakan pada KTT Bumi di Rio de Janeiro tahun 1992, tampaknya tidak mudah diatasi oleh umat manusia, yang terjadi adalah masa depan yang buruk bagi kehidupan manusia. Prediksi yang terjadi adalah seperti yang digambarkan oleh garis merah-penuh pada Gambar 3.Yaitu, terjadinya bencana yang menimpa umat manusia. Keadaan seperti ini haruslah dihindari dengan berbagai cara dan usaha.
Usaha yang harus dilakukan adalah bagaimana mengatur berbagai upaya untuk mencapai kesetimbangan di bumi ini. Pencapaian kesetimbangan yang dapat menunjang kebutuhan manusia saat ini dengan tidak mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan yang mereka perlukan, dikenal sebagai “Keberlanjutan”, dan masyarakat yang berusaha menciptakan kondisi seperti itu disebut sebagai “Masyarakat yang Berkelanjutan” (Sustainable Society).

Gambar 3. Pola pertumbuhan pembangunan secara umum
Sumber: Suzuki (2006).
Namun, teknologi untuk pembangunan yang berkelanjutan–selanjutnya disebut sebagai teknologi berkelanjutan — tidaklah cukup dengan perubahan teknologi yang bertujuan memproduksi barang dan jasa dengan meminimalkan limbah saja, teknologi yang diperlukan adalah teknologi dengan tujuan yang jauh lebih luas.Hal ini untuk memungkinkan kita untuk memenuhi kebutuhan umat manusia dengan tanpa melebihi kapasitas daya dukung dan daya tampung ekologi planet bumi ini dan mempromosikan kesetaraan kebutuhan manusia.
Teknologi Berkelanjutan mempunyai paling tidak tiga karakterisitik, yaitu: memenuhi kebutuhan umat manusia, mempertimbangkan pengaruh global dan memberikan penyelesaian jangka panjang (Mulder, 2006). Beberapa contoh yang memperlihatkan teknologi yang tidak berkelanjutan, antara lain:
•           Penggunaan pupuk kimia, yang pada awalnya dapat meningkatkan kebutuhan pangan, akan tetapi pada jangka panjang menimbulkan kerusakan tanah pertanian lokal.
•           Obat antibiotika telah dirasakan penting bagi peningkatan kesehatan manusia, tetapi penggunaannya yang sangat luas menyebabkan munculnya bakteri yang tahan terhadap obat antibiotika. Pada jangka panjang, hal ini dapat menimbulkan resiko kesehatan yang luas.













G.   Grafik Model pertumbuhan Populasi


H.   Sifat-sifat kelompok populasi
•           Kepadatan adalah ukuran besarnya populasi dalam satuan ruang atau volume, yang pada umumnya ukuran besarnya populasi digambarkan dengan cacah individu, atau biomas populasi per satuan ruang atau volume.
•           Natalitas merupakan kemampuan suatu populasi untuk menambah jumlah anggotanya secara inheren/besar. Laju natalitas adalah sama dengan laju kelahiran dalam terminology ilmu kependudukan (demography). natalitas maksimum adalah penambahan jumlah anggota populasi dalam kondisi ideal (tidak ada faktor eksternal yang membatasi). Sedangkan natalitas ekologi adalah pertambahan jumlah anggota populasi dalam kondisi alam senyatanya.
•           Mortalitas adalah pengurangan cacah individu suatu populasi. Laju mortalitas adalah sama dengan laju kematian dalam demografi manusia. Moralitas dapat dibedakan atas mortalitas fisiologik dan ekologik.Mortalitas fisiologik adalah pengurangan individu anggota populasi dalam kondisi yang ideal. Semua organisme dalam kondisi ideal sekalipun akan mengalmi kematian sekalipun dalam umur relatif tua, yang secara teoritis ditentukan oleh longivitas fisiologik. Sedangkan mortalitas ekologik adalah pengurangan individu anggota populasi dalam kondisi alam senyatanya.Angka kematian ini biasanya lebih besar dibandingkan dengan kematian dalam kondisi ideal dan bukan merupakan tetapan.
•           Struktur umur adalah sifat populasi yang penting mempengaruhi baik natalitas maupun mortalitas. Motalitas biasanya berbeda menurut umur dan kemampuan berkembangbiak sangat kering terbatas pada kelompok umur tertentu. Secara umum populasi mempunyai struktur umum yang secara garis besar dapat di golongkan atas tiga pola, yaitu:
1. Struktur umum menurun, yaitu struktur umum yang mempunyai kerapatan kecil pada umur muda, besar pada kelompok umur sedang dan kecil pada kelompok umur tua. Perkembangan populasi pada pola struktur umur yang demikian ini cenderung menurun dan pada periode waktu tertentu akan punah.
2. Struktur umur stabil, yang jika di gambarkan distribusi kelompok umur ini mempunyai bentuk seperti piramida sama sisi. Populasi dengan pola stuktur umum semacam ini dapat mempertahankan keberadaannya dalam waktu yang relatif lama.
3.         Struktur umum meningkat ( berkembang), yaitu populasi dengan kerapatan kelompok umur muda paling besar. Populasi dengan pola stukutur ini akan mengalami perkembangan kerapatan yang relatif tinggi pada peride waktu mendatang.
•           Bentuk pertumbuhan populasi adalah tiap populasi mempunyai pola pertumbuhan yang khas. Apabila angka-angka pertumbuhan populasi di atur di atas grafik, kurva yang akan terjadi mungkin berbentuk huruf J atau berbentuk huruf S. bentuk kurva grafik seperti huruf J dan S tersebut merupakan pola dasar tersebut berbentuk sebagai variasi sesuai dengan sifat-sifat organisme dan lingkungan populasi bersangkutan.
•           Potensi biotik
•           dispersi
•           bentuk perkembangan atau pertumbuhan
•           Sifat-sifat genetik yang secara langsung berhubungan dengan ekologinya, misalnya sifat adaptif, sifat keserasian reproduktif dan ketahanan (yaitu peluang meninggalkan keturunannya untuk jangka waktu yang panjang).
Densitas Populasi
Besaran populasi yang terdapat dalam suatu unit ruang atau tempat ttt.(cth: pop. rusa 1000 ekor/Ha; 5000.000 diatom/m3 ; bandeng 1000 kg/Ha; udang 2 ton/Ha
Ada 2 bentuk densitas:
1). Densitas krud (crude dencity), yaitu: jumlah (ekor) atau biomas dari setiap unit dalam total ruang
2). Densitas khas (specific dencity), sering disebut densitas ekologi (bila pertimbangan ekonomi disebut densitas ekonomi), yaitu: jumlah (biomas) setiap unit ruang habitat dalam suatu ekosistem.


I.      Penyebaran populasi
Ada beberapa satuan pengukuran yang digunakan dalam menerangkan suatu populasi ataupun komunitas seperti frekuensi, kepadatan, luas penutupan, dan biomassa.Kepadatan merupakan jumlah individu per unit area atau unit volume.Dalam suatu tempat tidak semuanya merupakan tempat yang layak bagi suatu spesies hewan.Mungkin dari tempat itu hanya sebagian saja yang merupakan habitat yang layak bagi hewan tersebut.Kepadatan mutlak atau kepadatan ekologi merupakan kepadatan yang mendiami bagian tertentu (Soegianto, 1994).
Indeks keanekaragaman dan dominansi digunakan untuk mengetahui pengaruh kualitas lingkungan terhadap komunitas larva ikan.Pengaruh kualitas lingkungan terhadap kelimpahan ikan selalu berbeda-beda tergantung pada jenis ikan, karena tiap jenis ikan memiliki adaptasi dan toleransi yang berbeda terhadap habitatnya.Indeks tersebut digunakan untuk memperoleh informasi yang lebih rinci tentang komunitas ikan (Bengen, 2000).
Kriteria yang digunakan untuk menginterpretasikan dominansi spesies yaitu (Ludwig dan Reynold, 1988):
Mendekati 0 = indeks semakin rendah atau dominansi oleh satu spesies.
Mendekati 1 = indeks besar atau cenderung dominansi oleh beberapa spesies.
Pola penyebaran larva ikan dalam penelitian ini ditentukan dengan menggunakan Indeks Morisita (Iბ).Indeks ini tidak dipengaruhi oleh luas stasiun pengambilan sampel dan sangat baik untuk membandingkan pola pemencaran populasi.

J.    Faktor Pembatas Populasi
1.         Faktor Pembatas Fisik
Faktor pembatas fisik bagi suatu organisme kita kenal secara luas di antaranya faktor :
a) cahaya matahari, intensitas cahaya bukan merupakan bagian terpenting yang membatasi pertumbuhan tumbuhan dilingkungan darat, tetapi penaungan oleh kanopi hutan membuat persaingan untuk mendapatkan cahaya matahari dibawah kanopi tersebut menjadi sangat ketat.
b) suhu, suhu dapat dikatakan sebagai faktor pembatas karena pengaruhnya pada proses biologis dan ketidakmampuan sebagian besar organisme untuk mengatur suhu tubuhnya secara tepat.  Sebagian organisme tidak dapat mempertahankan suhu tubuhnya lebih tinggi beberapa derajat diatas atau dibawah suhu lingkungan sekitar .
c) ketersediaan sejumlah air dapat dikatakan sebagai faktor pembatas, ketika ada organisme yang hidup terendam diair, tetapi ada masalah keseimbangan air, jika tekanan osmosis intra seluler organisme tersebut tidak sesuai dengan tekanan air disekitarnya.
2.         Faktor pembatas kimiawi dan non fisik
Faktor pembatas nonfisik adalah unsur-unsur nonfisik seperti zat kimia yang terdapat dalam lingkungan akan menjadi faktor pembatas bagi organisme-organisme untuk dapat hidup dan berinteraksi satu sama lainnya. Kondisi lingkungan perairan (aquatic) berbeda dengan kondisi lingkungan daratan (terrestrial), terutama ditinjau dari keberadaan unsur kimiawi seperti; O2, CO2, dan gas-gas terlarut lainnya yang dapat diperoleh organisme di lingkungannya.
3.         Faktor Pembatas Tipologi Ekosistem & Indikator Ekologi
Jika suatu organisme mempunyai batas toleransi yang lebar untuk suatu faktor yang relatif mantap dan dalam jumlah yang cukup maka faktor tadi bukan merupakan faktor pembatas.Sebaliknya apabila organisme diketahui hanya mempunyai batas-batas toleransi tertentu untuk suatu faktor yang beragam maka faktor tadi dapat dinyatakan sebagai faktor pembatas.
Adanya faktor pembatas, dapat dianggap faktor ini bertindak sebagai ikut menyeleksi organisme yang mampu bertahan dan hidup pada suatu wilayah sehingga sering kali didapati adanya organisme-organisme tertentu yang mendiami suatu wilayah tertentu pula.Organisme ini disebut sebagai indikator biologi (indikator ekologi) pada wilayah tersebut.


K.   Prinsip Organisasi pada populasi interspesies
Netralisme : Adanya suatu populasi dalam interaksi netral tidak mempunyai pengaruh pada kehadiran populasi yang lain, sehinggainteraksi tersebut tidak menghasilkan pengaruh pada organisasi ekologi dari komunitas atau ekosistem.
Komensalisme : Organisasi yang menggambarkan hubungan simbiotik, yaitu satu organisme memakan makanan yang tidak dimanfaatkan oleh orang lain
Amensalisme : Suatu interaksi dengan pengaruh negative pada suatu populasi dan tidak berpengaruh pada populasi yang lain.
Parasitisme : Parasit adalah organism yang hidup di atas atau di ddalam tubuh organism lain (inang) yang mendapatkan makanan dan jaringnya dan sedikit mendapatkan banyak keuntungan.
Predasi : Organisme yang memakan semua atau bagian-bagian organism hidup lain.
Mutualisme : Interaksi yang berpengaruh positif pada kedua spesies sebagai akibat dari kebersamaan mereka.
Kompetitif : Aksi dari usaha untuk mendapatkan apa yang diusahakan pihak lain untuk didapat pada waktu yang sama.








BAB III
PENUTUP
A.   Kesimpulan
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan  karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Populasi manusia adalah ancaman terbesar dari masalah lingkungan hidup di Indonesia dan bahkan dunia.Setiap orang memerlukan energi, lahan dan sumber daya yang besar untuk bertahan hidup.Kalau populasi bisa bertahan pada taraf yang ideal, maka keseimbangan antara lingkungan dan regenerasi populasi dapat tercapai. Tetapi kenyataannya adalah populasi bertumbuh lebih cepat dari kemampuan bumi dan lingkungan kita untuk memperbaiki sumber daya yang ada sehingga pada akhirnya kemampuan bumi akan terlampaui dan berimbas pada kualitas hidup manusia yang rendah.
Faktor pembatas :
a.    Faktor pembatas Fisik
Faktor pembatas fisik bagi suatu organisme kita kenal secara luas di antaranya faktor : cahaya matahari, cuhu dan ketersediaan air.
b.    Faktor pembatas kimiawi dan non fisik
Faktor pembatas nonfisik adalah unsur-unsur nonfisik seperti zat kimia yang terdapat dalam lingkungan akan menjadi faktor pembatas bagi organisme-organisme untuk dapat hidup dan berinteraksi satu sama lainnya.
c.    Faktor Pembatas Tipologi Ekosistem & Indikator Ekologi
Jika suatu organisme mempunyai batas toleransi yang lebar untuk suatu faktor yang relatif mantap dan dalam jumlah yang cukup maka faktor tadi bukan merupakan faktor pembatas.Sebaliknya apabila organisme diketahui hanya mempunyai batas-batas toleransi tertentu untuk suatu faktor yang beragam maka faktor tadi dapat dinyatakan sebagai faktor pembatas.























DAFTAR PUSTAKA

Cunningham, Wiliam P., Saigo, Barbara W., 2001. Environmental Science: A global Concern. Sixth Edition., New York: Mc Graw Book Co
Hutagalung, RA., 2010. Ekologo Dasar. Erlangga; Jakarta
Mader, S.S. 2007. Biology, Ed. 9, McGraw Hill Int. Edition, New York.
Notoatmodjo,S, 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta
Setiadi, T. 2007. “Peranan Teknik Bioproses dalam mewujudkan Masyarakat Berkelanjutan‘, Majelis Guru Besar, ITB, Bandung
Uya.2010.  Komponen Ekosistem. http://www.shvoong.com/exact-sciences/biology/2012066-komponen-ekosistem.html Diakses tanggal 15 mei 2013

0 komentar:

Posting Komentar